internetan dari sore sampai pagi

Harvard Square alley becomes a pedestrian oasis
Brattle Walk is a charming tree-shaded, mid-block pedestrian alley that stretches between Brattle Street and Mount Auburn Street in Harvard Square. (wiqan ang for the boston globe)
CAMBRIDGE — In a city, it’s the little things that matter.
When we think of architecture, we may think first about prominent buildings by famous designers. Boston’s Trinity Church in Copley Square , perhaps, or the Hancock Tower .
But when we do that, we forget that architecture is much more than monuments.
Architecture shapes most of the spaces we live in — the little streets and alleys, the big squares and boulevards. They’re defined by architecture the way a room is defined by its walls.
A case in point is an almost miraculous little place in Cambridge. It doesn’t have a name. It’s a charming brick-paved, tree-shaded , mid-block pedestrian alley that stretches between Brattle Street and Mount Auburn Street. It begins at 44 Brattle. We’ll call it the Brattle Walk.
Here, over a period of more than 30 years, a series of developers and architects, each working pretty much independently, added one little piece at a time until the Walk was complete. It was an amazing act of voluntary collaboration. Everyone saw the potential of the Walk and everyone made sure, as they built new buildings, to leave enough room for it.
The first new building on what was to become the Brattle Walk was a headquarters for the architecture firm founded by Walter Gropius . It was finished back in 1968. The latest was an office building containing a Post Office, which opened in 2001 and allowed the Brattle Walk, finally, to connect all the way through the block to Mount Auburn Street. That’s 32 years of cooperation.
With spring sunshine finally here in Cambridge, and the trees beginning to leaf out, the Brattle Walk is at its best.
The Walk really began in 1969, when two buildings reached out and touched each other, a story above the ground. It’s as if they were shaking hands. By so doing, they created a big square archway. This opening was the beginning of the Walk. As you look from Brattle Street, the building on the left is 44 Brattle and the one on the right, with a big Crate and Barrel Store, is 48.
At least seven architects worked over the years to create the Walk. None made a building that shouted for attention. All were more concerned with creating a shared public space.
Those architects included two winners of America’s highest prize in architecture, the Gold Medal of the American Institute of Architects. One was Benjamin Thompson , who designed the wonderful original Design Research Building , now home to Crate and Barrel. The other was Josep Lluis Sert , who designed 44 Brattle and, in doing so, invented a glass shed roof that shelters much of the Walk.
After so many years, it’s hard to know who first dreamed up the idea of the Brattle Walk. Two figures, though, stand out. One is William Poorvu , a developer who teaches at the Harvard Business School and whose office is on the Walk. Poorvu at one time or another has owned at least an interest in more than half the properties along the Walk, including Design Research, 44 Brattle, and the building that contains the Post Office.
Poorvu says he was thinking about the future Walk as far back as the late 1960s. He says he was the one who persuaded architect Sert to cantilever 44 Brattle out to touch Design Research, thus creating the entry arch.
The other key figure is the late architect Thompson , who, with his wife and partner , Jane Thompson, was also the designer and first owner of what is now the Walk’s central element. This is the Harvest Restaurant, which opened in 1975. As seen from Brattle Street, it’s the bright neon “Harvest” sign, more than anything else, that pulls you into the Walk. Notes Jane Thompson : “In cleaning out the cellar of my ex-house, I found rolls of miscellaneous drawings and there was the tube marked ‘Harvest Passageway.’ This confirmed for me that I did the scheme.” She says she sold the idea to Poorvu and other owners.
It doesn’t really matter, of course, who thought of the Walk first. What’s important is that everyone saw the potential and acted on it. They’re still doing so. In recent years the Walk has sent out a lateral shoot, into the area around the Brattle Theater and Casablanca restaurant. Perhaps, eventually, the whole block will be laced with brick walkways.
Not everyone, alas, values the Walk. Harvard is a special offender. It keeps expanding into the Walk-side buildings. One of those, originally designed as his own office by the prominent architect Earl Flansburgh , is now a Harvard office where the university has, unfortunately, chosen to wall itself off with an ugly black metal fence.
The Brattle Walk isn’t an important place or, even, a remarkably beautiful one. It’s not going to appear in any books about great architecture. That’s not the point. It’s not about fame or fortune or what’s called “signature architecture.” It’s about how you make good cities by getting the small things right.
Robert Campbell is the Globe’s architecture critic. He can be reached at camglobe@aol.com. ![]()
© Copyright 2007 Globe Newspaper Company.
Designed so you’ll walk this way

Enneagram-9 Tipe Kepribadian
Enneagram dalam bahasa Yunani, Ennea, berarti sembilan, dan gram berarti “sebuah gambar”. Enneagram disimbolkan dengan lingkaran berisi bintang bertitik sembilan. Enneagram menjelaskan sembilan tipe kepribadian manusia. Salah satu keistimewaan Ennegram adalah kemampuannya mengindetifikasi dan menjelaskan beragam ciri kepribadian serta kecenderungan manusia. Keistimewaan lainnya adalah ajarannya bahwa kita tidaklah melakukan kesalahan karena berbeda dari yang lain.
- Perfeksionis
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjalani hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain, serta menghindari kemarahan.
- Penolong
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, serta untuk mengekspresikan perasaan positif kepada orang lain.
- Pengejar Prestasi
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk produktif, sukses, dan terhindar dari kegagalan.
- Romantis
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan sendiri dan dipahami oleh orang lain, menemukan makna hidup, dan terhindar dari citra diri yang biasa-biasa saja.
- Pengamat
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala hal dan memahami semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tak memiliki jawaban.
- Pencemas
Dimotivasi oleh kebutuhan akan rasa aman, rasa diperhatikan, atau melawan rasa takut.
- Petualang
Dimotivasi oleh kebutuhan merasa bahagia dan merencanakan hal-hal menyenangkan, berkontribusi pada dunia, serta terhindar dari penderitaan dan rasa sakit.
- Pejuang
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengandalkan diri sendiri dan kuat, memberi pengaruh pada dunia, serta terhindar dari kesan lemah.
- Pendamai
Dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain, dan menghindari konflik.
Reene Baron & Elizabeth Wagele (ENNEAGRAM of love and relationships)



KOTA AWAL INDONESIA
Kota-kota awal yang dibahas pada pertemuan ini adalah kota Semarang, Makassar, dan Bandung.
I. KOTA SEMARANG
I.1. Letak Geografis
Semarang terletak terletak di pantai utara laut jawa dengan luas wilayah 37.366.383 ha. Secara astronomis terletak pada 6º, 5′ – 7º, 10′ LS dan 110º, 35′ BT. Semarang merupakan simpul empat pintu gerbang, yakni koridor pantai utara, koridor selatan ke arah kota-kota dinamis seperti kab. magelang, surakarta yang dikenal dengan koridor mmerapi-merbabu, koridor timur kearah kabupaten demak/grobogan dan barat menuju kab. Kendal.
I.2. Awal Pendirian Semarang
Semarang didirikan pada tahun 1594 oleh Sultan Pandanaran sebagai bagian kerajaan Demak. Semarang merupakan salah satu pusat penyiaran agama Islam dan sebagai pusat perdagangan dari daerah-daerah sekitar Semarang dan juga dari Arab / Persia, Belanda (VOC), Cina dan Melayu.
I.3. Masa Penjajahan
Di bawah kolonialisme Belanda perkembangan semarang cukup pesat dengan dibangunnya berbagai kepentingan Belanda, seperti :
a). Sarana dan prasarana perkotaan sepert jalan, transportasi kereta api, pasar-pasar dan sebagainya,
b). Dalam sejarahnya tanggal 16 Juni 1864 dibangun jalan kereta api (rel) pertama di Indonesia,
c). dibangun 2 stasiun kereta api yang masih ada sekarang yaitu Tawang dan Poncol.
Agama Islam tetap berkembang sehingga kebudayaan yang bernuansa Islampun tak lepas dari perkembangannya
I.4. Pasca Kemerdekaan
Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 16 tahun 1976 wilayah Semarang yang semula lima kecamatan mengalami pemekararan menjadi sembilan kecamatan. Pusat-pusat industri, perdagangan, pendidikan, pemukiman, pertahanan keamanan mulai diatur dalam lokasi-lokasi yang tepat dan strategis. Kota bawah cepat berkembang menjadi pusat perdagangan. Perkembangan selanjutnya yang tampak menonjol adalah industri dan pernukiman penduduk.
I.5. Masa Kini
Dengan dasar Peraturan Pemerintah Rl (PP) No. 50/92 tentang penentuan Kecamatan-kecamatan, maka Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan. Era reformasi melahirkan penataan baru meliputi pembangunan jalan, pengembangan industri, dan pembangunan pemukiman, dan dicanangkannya ototnomi daerah tahun 2000. Sampai sekarang terdapat problem yang belum juga tuntas selama bertahun-tahun yaitu banjir
II. KOTA MAKASSAR
Makassar merupakan Kota kolonial. Perkembangan tata ruang kotanya sangat dipengaruhi oleh nuansa Belanda. Berbeda dengan pola-pola kota di daerah Jawa. Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia ( masa penjajahan), makassar merupakan salah satu kota bentukan Belanda yang juga merupakan sirkulasi perdagangan dan pertahanan Belanda. Di tepi Pantai dibangun benteng (ciri khas daerah bekas jajahan belanda) penamaan lokasi dan jalan-jalan tertentu/penting memakai bahasa belanda, dan permukiman di pisahkan menurut Etnis dan strata sosial.
Pada masa kini kota Makassar semakin berkembang kearah timur. Timbul pusat kota baru di mana juga berkembang pusat perdagangan.
REVOLUSI INDUSTRI
(KOTA NEOKLASIK DAN KOLONIAL AMERIKA)
I. KOTA NEOKLASIK
I.1. Monarki Dan Monumentalis
Karakter monumentalis kembali ke kota. Setiap bentuk mempunyai garis tengah, dan setiap ruangan mempunyai sumbu. Kualitas struktural dari abad pertengahan digantikan oleh sumbu bentuk ukiran klasik, yang dirancang secara simetris.
I.2. Kota Zaman Barok
Pada abad XVII, kota barok berkembang dan dominasi penguasa semakin besar. Jalan-jalan raya versailles memusat ke istana raja, dan di jerman seluruh kota Karlsruhe dan Mannheim mengelilingi seputar istana-istana dan taman-taman besar dari keluarga kerajaan.
I.2.1. Versailles
Garis tengah dan sumbu melambangkan besarnya kekuasaan keluarga raja. Louis XIV memindahkan istananya dari kota paris yang padat ke tempat perburuan terbuka di versailles, dan ia memerintahkan agar jalan-jalan raya memancara dari istananya yang megah.
I.2.2. Karlsruhe
Seluruh kota karlsruhe dipandang untuk berputar sekitar dan memancar dari istana pangeran.
II. KOLONIAL AMERIKA
II.1. New Amsterdam
Permukiman orang belanda di New Amsterdam dibangun di ujung daerah yang sekarang disebut Manhattan. Jalan-jalan yang dibuat tahun 1660 dekat pelabuhan masih tetap mempertahankan pola aslinya, diantaranya Lower Broadway (disebut breedway oleh orang belanda), Broad Street dan Wall Street. Pola jalan yang hampir tidak teratur gaya abad pertengahan dan kanal adalah tiruan dari kota-kota Belanda.
II.2. Philadelphia
William Penn menugasi Thomas Holme untuk merencanakan kota itu pada tahun 1682. suatu rencana gridiron yang kaku diterapakan. Dua jalan utama bersilang di pusat koata dan membentuk sebuah lapangan umum. Sebuah taman blok persegi ditampatkan dalam setiap kuadran. Rumah-rumah awal adalah rumah untuk keluarga tunggal. Pada pertengahan abad XVIII sudah umum membangun rumah sepanjang samping sehingga terbentuk jajaran bangunan sinambung yang menghalangi akses ke halaman belakang. Gang-gang kemudian dibuat memotong tengah-tengah blok, yang kemudian menjadi jalan.
II.3. Savannah
Rencana Savannah yang dibut pada tahun 1733 oleh James Oglethorpe terdiri dari jalan lurus berpola tratur dengan taman-taman diletakkan disetiap dua blok. Rencana kota ini serupa dengan Philadelphia, dengan peruntukan ruang terbuka yang lebih banyak.
II.4. Washington D.C
Rencana yang dibuat oleh L’Enfant dam disetujui oleh Washington dan Jefferson mengawasi serangkaian proyek perencanaan dimana jalan-jalan radial dan diagonal ditimpakan pada pola gridiron yang umum. Kota ini dirancang sebagai lingkungan monumental yang besar untuk pemerintah federal negara baru ini.
II.5. Kota New York
Setelah menolak usulan perencana dan arsitek Joseph Mangin tahun 1800, sebuah panitia dibentuk tahun 1811 untuk menyusun sebuah rencana kota. Mereka megusulkan sebuah pola jalan gridiron yang diterapkan pada topografi yang tidak rata. Ruang terbuka kurang disediakan, hanya sebuah lapangan parade militer seluas 69 acre, 55 acre untuk pasar, dan 5 taman kecil yang disediakan dalam rencana itu. Meskipun alasan kurangnya ruang terbuka adalah “harga tanah yang luar biasa tinggi,” namun pola jalan yang direncanakan sebenarnya tidak ekonomis; jalan-jalan tersebut hanya menemapati sekitar 30% tanah. Rencana asli yang kaku ini tercermin dalam kota yang padat dewasa ini dimanan ruang terbuka telah menghilang. Baru pada pertengahan abad XIX, Central Park yang besar itu diletakkan dalam rencana kota.
GARDEN CITY
I. LATAR BELAKANG
Latar belakang munculnya konsep Garden Cities, yaitu:
· Dampak Revolusi Industri: munculnya pusat-pusat pertumbuhan baru menjadikan daerah sekitar lokasi industri menjelma menjadi kota-kota besar yang padat karena proses urbanisasi,
· Ledakan jumlah penduduk memunculkan masalah lingkungan dan pemukuman kumuh,
· Akibat revolusi industri membuat orang berfikir membuat konsep kota yang lebih baik,
· Kebutuhan akan pemenuhan kebutuhan pemukiman disambut oleh developer untuk menciptakan pemukiman yang sehat, humanis, dan jauh dari kesan mekanis.
Letchworth City yang merupakan kota taman pertama adalah kawasan perumahan berkepadatan rendah yang perkembangan dan pertumbuhan kotanya bertolak belakang dengan praktek spekulatif di kota lazimnya. Tiap rumah memiliki halaman dan taman sendiri.
II. CONTOH-CONTOH KASUS
II.1. Contoh Kasus di Eropa
Inggris membuat Undang-undang Perumahan dan Perencanaan Kota dengan kriteria: paling sedikit sepertiga rumah yang ada sudah terlalu padat atau secara fisik tidak layak dan tidak bisa diperbaiki, kawasan semacam ini dinyatakan cocok untuk peremajaan dan pemerinta daerah diberi wewenang untuk mengambil alih seluruh atau sebagian tanah dan untuk diatur kembali pembangunannya oleh pemerintah atau perusahaan swasta.
II.2. Contoh Kasus di Indonesia
Kota taman pertama di Indonesia yang dirancang arsitek lokal yaitu 1948 oleh Moh.Soesilo merupakan kota taman bergaya eropa ( belanda ) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis. Kota taman ini memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan jalan yang jelas dan di dominasi ruang terbuka hijau dari total luas Kebayoran Baru.
KONSEP KOTA BARU
I. PENGERTIAN KOTA BARU
Secara umum, kota baru adalah kota yang direncanakan, dibangun dan dikembangkan pada saat suatu atau beberapa kota lainnya yang direncanakan dan dibangun sebelumnya telah tumbuh dan berkembang.
II. LATAR BELAKANG
Wawasan terhadap pengertian, batasan serta perwatakan “kota baru” yang dikemukakan para pakar mencakup kota-kota baru yang direncanakan dan dikembangkan sejak masa silam, khususnya sejak kebangkitan peradaban budaya masa Yunani kuno (Gideon Golany, 1976). Konsep pemikiran kota baru yang dikembangkan sejak dikenal filsafat perencanaan modern yang dumulai akhir abad ke-19, yaitu sejak dicetuskannya konsepsi “garden city” oleh Ebenezer Howard di Inggris(A.C. Duff, 1964). Sebagai suatu ‘konsepsi’, kota baru kemudian dianggap merupakan salah satu cara dalam pemecahan masalah perumahan dan permukiman kota. Konsepsi dasar mengenai ‘kota baru’ yang pada awalnay dikembangkan menjadi landasan pemikiran konsepsual untuk memecahkan masalah perumahan dan permukiman kota di belahan bumi lainnya. Demikian spesifik dan tipikalnya perilaku ‘kota baru’ ini, sehingga pengertian, batasan dan perwatakannya telah mengalami perkembangan yang tipikal untuk setiap negara.
III. PERKEMBANGAN KOTA BARU
Dalam dimensi masa, tahapan perkembangan kota baru dapat dibagi menjadi:
- Kota baru masa silam dan masa pra revolusi industri,
- Kota baru masa revolusi industri,
- Kota baru masa pasca revolusi industri,
- Kota baru masa kini.
IV. KOTA BARU MASA SILAM DAN MASA PRA REVOLUSI INDUSTRI
Dalam arti yang hakiki,kota baru dikenal sejak masa Mesir, Yunani dan Romawi kuno dan kemudian pada masa abad pertengahan dan masa peralihan (Renaissance) di Eropa. Beberapa pemukiman lama yang dapat dicontohkan sebagai kota baru pada masa Yunani,seperti kota-kota yang terdapat di sepanjang mediterania sampai ke kota-kota yang didirikan bangsa Romawi di Mesopotamia dan Afrika Utara. Pada abad pertengahan,misalnya kota-kota wilayah Andalusia (Spanyol) seperti di Granada, Sevilla, dan wilayah Baghdad. Pada abad peralihan, misalnya kota-kota di sepanjang Lembah Garonne di Perancis. Masa menjelang revolusi industri di Eropa Barat,seperti: pembangunan kota baru di wilayah frontier Amerika, seperti Savannah, Georgia, Washington DC, Pullman, Illinois dan Philadelphia.
V. KOTA BARU MASA REVOLUSI INDUSTRI
Kota yang diartikan sebagai kota baru pada masa revolusi industri, ada dua jenis yaitu:
· Kota pekerja (workers town),seperti Saltaire, New Lenark dan Port Sunlight di Inggris dan Skotlandia; kota industri Krupp di Jerman; kota baru Chaux di Perancis; Lowell dan Pullman di wilayah perindustrian Amerika Serikat.
· Kota satelit, seperti Le Vesenet di sekitar Paris; Riverside,Illionis, yang direncanakan oleh Frederick Law Olmsted.
VI. KOTA BARU MASA PASCA REVOLUSI INDUSTRI
Pada masa ini, dikembangkan konsepsi garden city yang dicetuskan sebagai inovasi untuk memecahkan masalah permukiman di kota-kota yang padat industri. Tokohnya yaitu Ebenezer Howard. Konsepsi ini baru mulai diwujudkan sekitar awal abad ke-20, dengan didirikannya Letchworth garden city di London (1905) dan welwyn garden city (1919). Disusul kota baru seperti Crawley, Hemel Hempstead, Harlow, Aycliffe, East Kilbride, Peterlee, dan Glenrothes.
VII. KOTA BARU MASA KINI
Kota baru ini, dimulai pada masa akhir Perang Dunia II, yaitu antara tahun 1948 – pertengahan dasawarsa 50-an. Kota baru jenis ini disebut kota baru generasi kedua atau Mark II New Town.
Kota-kota yang dikategorikan sebagai kota baru generasi kedua di Inggris yang dibangun antara tahun 1950-1955, seperti Corby dan Cumbernauld. Dibangun antara 1960-1970 seperti Skelmersdale, Livingstone, Telford, Redford, Redditch, Runcorn, Irvine, Milton, Keynes, Peterborough, Lancashire, Stonehouse. Di eropa, antara 1960-1970 terdapat beberapa kota baru di negeri Belanda seperti Beverwijk, Emmerloord, Emmen, Randstand, Almere, Zoetermer, di Finland seperti Topiola, di Perancis seperti Canteleu New Town, Mourenx, Surville, Toulouse Le Mirail, di Jerman seperti Cologne, New Chandigard (India), Islamabad (Pakistan). Di Amerika Latin seperti Brasilia (Brazil). Di Jepang seperti Hino, Yakaichi.
ARSITEKTUR MODERN
I. LATAR BELAKANG
Setelah perang dunia II, perkembangan jumlah penduduk, budaya dan teknologi sangat cepat, demikian pula perkembangan arsitektur modern. Arsitektur modern berkembang lebih jauh lagi dipelopori oleh para arsitek generasi berikut: teknologi konstruksi,bahan bangunan dan kebutuhan akan fasilitas ruang atau arsitektur dari masyarakat membuat perkembangan arsitektur modern sangat kompleks.
II. TOKOH-TOKOH ARSITEKTUR MODERN DAN KARYA-KARYANYA
II.1. Le Corbusier (1889-1965)
Konsep perencanaan Unite d’habitation yaitu permukiman dalam sebuah unit tunggal. Le Corbusier merancang Notre-Dame-du-Haut Ronchamp sebuah kapel(gereja Katolik kecil) pada tahun 1945 hingga ia meninggal. Dan pada tahun 1955 Le Corbusier merancang biara Dominikan La Touret,di Perancis. Salah satu karya akhir Le Corbusier sebelum meninggal yaitu Pusat seni rupa Kerajian Kayu(Carpenter Center for the Visual Arts) 1963 di Cambridge, Massachusetts Amerika Serikat.
Le Corbusier juga menghasilkan beberapa karya-karya di India, diantaranya pada tahun 1950 Le Corbusier menjadi pengawas dalam pembangunan Chandigardh yang merupakan ibu kota baru yang menggantikan ibu kota sebelumnya yaitu Lahore di Punjab. Dalam merancang kota Chandigardh Le corbusier membagi kelas jalan dalam tiga tingkat, saling berpotongan, tegak lurus satu dengan lainnya dan membentuk kotak-kotak seperti papan catur.
Adapun karya-karyanya yaitu :
- Merencanakan kota saint Die(Vosges) 1945 dan La Pallice (dekat La Rochelle) di Perancis,
- Menangani perumahan blok tunggal raksasa di Merseiles (1947-1952), kota pelabuhan di perancis bagian selatan,
- Dengan menerapkan konsep yang disebutnya Ville Radieuse “(kota bersinar)”.
II.2. Frank Lloyd Wright (1867-1959)
Hasil karya Frank Lloyd Wright, yaitu :
- Tahun 1922-1955, membangun Price Tower di Oklahoma,
- Tahun 1952, membangun Wright’s house,
- Tahun 1942, terlibat dalam perancanaan dan pembangunan Solomon R. Guggenheim Museum di New York,
- Tahun 1957-1966, membangun Marine County Civic Center di San Raphael, California yang merupakan karya terakhirnya.
II.3. Hugo Alfar Henrik Aalto (1898-1976)
Pada awal abad XX, arsitektur modern berkembang pesat di skandinavia dengan seorang tokohnya Alfar Aalto. Karya-karyanya yaitu : Baker House, di Cambridge, Massachusetts, yaitu sebuah asrama untuk mahasiswa senior di M.I.T. Antara tahun 1950-1952, Aalto terlibat dalam perancangan dan pembangunan balai kota (Town Hall) Saynatsallo di Finlandia. Proyeknya yang sangat besar adalah kompleks Civic Center di Finlandia, terdiri dari gereja,balai kota, balai pertemuan dan perpustakaan. Aalto juga merancang Lecture theatre utama dari Finnish Institute of Technology, Otaniemi Helsinki, Finladia (1955-1964). Tahun 1958-1962 merancang gedung Pusat Kesenian (cultural Center) Walfsburg, Jerman. Tahun 1948 Aalto memenangkan sayembara perencanaan National Pension Bank, Helsinki, Finlandia. Tahun 1959-1962 merancang kantor Pusat Enso-Gutzeit Company di Helsinki, Finlandia
II.4. Eero Saarinen (1910-1961)
Eliel Saarinen adalah salah seorang tokoh arsitektur modern awal, kepeloporannya dalam arsitektur modern pertengahan abad ke XX dilanjutkan oleh anaknya Eero Saarinen. Eero Saarinen menghasilkan karya berupa General Motors Buildings di Detroit, Amerika Serikat(1951). Corak arsitektur Eero Saarinen tahun 50-an, mengacu pada fungsi ruang, kemudian dirancang suatu sistem struktur jauh lebih maju dari masa sebelumnya sehingga dimensi, bentuk dan besaran ruang yang dituntut oleh kebutuhan dapat tercapai.
II.5. Lucio Costa (1902) dan Oscar Nimeyer(1907)
Oscar Nimeyer adalah arsitek penganut modernisme terbesar di Brazilia, murid dari Lucio Costa dan pernah menjadi asisten dari Lecorbusier. Tahun 1956, sayembara perencanaan ibu kota Brazilia dimenangkan oleh Lucio Costa. Tahun !957 Nimeyer menjadi penanggung jawab dalam pembangunan gedung-gedung dan kompleks penting, antara lain Katedral, istana presidential Building, Supreme Court, Congress Building.
TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT
I. PENGERTIAN
Transit-Oriented Development (TOD) adalah suatu komunitas penggunaan campuran pada rata-rata jarak jalan kaki 2000 kaki dari suatu perhentian transit dengan area komersil inti. Ukuran TOD harus ditentukan berdasarkan kasus-ke-kasus. Rata-rata radius 2.000 kaki dimaksudkan untuk mempresentasikan suatu “jarak jalan kaki yang nyaman” (± 10 menit) bagi sebagian orang. Di beberapa lokasi, jarak jalan kaki yang nyaman dipengaruhi oleh topografi, iklim, arterial atau jalan-bebas yang saling terjalin, serta cirri-ciri fisik lainnya. Oleh karena itu, ukurannya akan lebih besar atau lebih kecil yang tergantung pada cirri-ciri tertentu.
II. URBAN TOD
Urban TOD ditempatkan secara langsung pada jaringan transit garis trunk: di light rail, heavy rail, atau perhentian bis expres. Itu semua seharusnya dibangun dengan intensitas komersial yang tinggi, kluster pekerjaan, dan kepadatan pemukiman yang moderat sampai yang tinggi.
Jika TOD Urban ditempatkan pada lingkungan maju yang sudah ada, maka lebih tepat menggunakan kepadatan dan campuran peruntukan penggunaan yang direkomendasikan melalui upya-upaya perencanaan local. TOD urban secara khusus ditempatakan kira-kira ½ hingga 1 mil guna memenuhi panduan pemberian ruang stasiun, meskipun tempat-tempat tersebut dapat dilokasikan bersama secara lebih dekat, sebagai perencanaan transit dan pemenuhan permintaan pasar.
III. DAERAH KOMERSIAL INTI
Inti perniagaan di pusat setiap TOD adalah hal esensial karena memungkingkan sebagian besar penduduk dan pekerja berjalan atau mengendarai sepeda bagi banyak barang-barang dan pelayanan dasar. Ini secara khusus menguntungkan bagi mereka yang tidak memiliki mobil dan orang-orang tang terbatas mobilitasnya.mereka yang masih memilih pergi ke took akan pergi pada sekian mil yang lebih singkat serta dapat menghindari menggunakan jalan arterial untuk perjalanan local. Area komersial inti juga menyediakan destinasi (tempat tujuan) penggunaan-campuran yang membuat penggunaan transit menjadi menarik.orang-orang lebih mudah menggunakan transit untuk pergi bekerja bila perhentian transit dikombinasikan dengan peluang-peluang retail dan pelayanan/jasa.
IV. DAERAH PEMUKIMAN
Daerah pemukiman TOD mencakup perumahan yang berada pada jarak jalan kaki yang nyaman dari daerah komersial inti dan perhentian transit. Kebutuhan pemukiman yang padat harus dipenuhi dengan suatu campuran tipe perumahan, seperti keluarga-tunggal kecil, townhome, kondominium, dan apartemen.
V. PENGGUNAAN PUBLIK
Penggunaan public diperluakan untuk melayani penduduk/residen dan para pekerja di TOD dan daerah-daerah sekitarnya. Tempat parkir, plasa, zona hijau, gedung-gedung public, dan pelayanan public dapat digunakan untuk mengisi kebutuhan tersebut. Parkir umum dan plasa kecil harus disediakan dalam memenuhi kebutuhan penduduk.
VI. AREA SEKUNDER
Setiap TOD memiliki area sekunder yang terletak tidak jauh dari satu mil dari area komersial inti. Jaringan jalan area sekunder harus menyediakan jalan langsung multiple serta koneksi sepeda ke perhentian transit serta area komersial inti, dengan tingkat minimal penyeberangan artesial. Area sekunder boleh jadi memiliki perumahan keluarga-tunggal dengan kepadatan lebih rendah, sekolah umum, parker masyarakat yang luas, penggunaan penghasil-pekerjaan intensitas yang rendah, dan lot parkir dan kendaraan.
Sumber: http://rikania09.multiply.com/













